1000 Alasan Untuk Tersenyum

Tersenyum

Cuaca pagi itu cukup cerah. Sinar mentari terasa hangat sampai ke kulit. Aku melangkahkan kaki menyusuri trotoar sambil mengarahkan pandanganku mencari sebuah kedai minuman. Aku lihat lalu lalang orang-orang seolah mereka dikejar oleh sesuatu.

“Seperti enak nih bisa minum kopi di pagi yang cerah ini” gumamku dalam hati.

Tepat di persimpangan jalan disudut bangunan tua yang tak berpenghuni, aku lihat seorang anak laki-laki sedang duduk sambil memegang sebuah kaleng bekas. Pakaiannya lusuh dan raut mukanya biasa aja. Aku lihat dengan sedikit lebih lama dan akhirnya aku menyadari kalau dia tidak bisa melihat. Dilehernya tergantung sebuah papan dan ada sebuah tulisan “Saya adalah anak yang buta, kasihanilah saya”. Ya itulah tulisan yang terpampang dengan jelas. Dan aku yakin setiap orang melihat anak itu pasti bisa membaca tulisan itu.

Aku ubah langkah kaki ini. Ku hampiri anak laki-laki itu. Kaleng yang dipegangnya hanya berisi beberapa recehan uang logam. Banyak orang yang melintas didepan anak ini namun mereka seperti enggan untuk memberi recehan pada anak ini. Kenapa? Adakah yang salah?

Aku keluarkan beberapa recehan dan aku taruh di kaleng itu. Anak laki-laki itu tampa sedikit tersenyum.

“Terima kasih pak” kata anak itu sambil meraba isi kaleng yang baru saja terisi.

“Iya, sama-sama, boleh aku pinjam papan itu.”

Diberikannya papan itu padaku. Aku perhatikan papan itu dan sambil duduk beberapa meter dari anak itu, aku mulai memikirkan sesuatu. Seperti ada yang salah, namun tak kunjung  aku tahu. Tak lama kemudian senyum mulai merekah dari wajahku. Aku tulis sebuah kalimat di sisi papan yang masih kosong. Semoga saja bisa lebih bermanfaat. Dan akhirnya aku kembalikan papan itu. Anaknya itu menggantung kembali papan itu tapi dengan tulisan yang baru tadi aku buat.

Akhirnya aku tinggalkan anak itu. Meyeberang jalan menuju sebuah kedai minuman. Sambil duduk menikmati segelas kopi yang aku pesan, aku duduk di dekat jendela sehingga bisa melihat anak itu dari sini.

Aku lihat ada orang yang berjalan di depan anak itu. Orang itu berhenti sejenak sepertinya membaca tulisan anak itu. Dan tak lama kemudian mengeluarkan recehan dan di taruhnya di kaleng bekas itu. Lalu munculah orang yang lain dan bergitu seterusnya, banyak yang berhenti melihat anak itu dan memberi recehan pada anak itu.

***

Keesokan paginya, aku kembali bertemu anak laki-laki itu. Dan anak itu masih mengenali suaraku. Sebuah ucapan terima kasih terucap dari bibirnya kembali.

“Apa yang bapak tuliskan waktu itu, sehingga saya merasa banyak orang yang memberi lebih dari biasanya.”

Aku pun berkata pada anak itu sambil duduk disampingnya. “Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya”. Itulah tulisan yang ada dipapan itu. Aku ingin mereka memberi recehan padamu bukan hanya karena kasihan. Tapi lebih atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur. Dan satu hal yang harus selalu kamu ingat ketika hidup ini memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan