Aku ‘kan Pergi Dari Duniamu

Menangis

Tanpa terasa ratusan hari telah berlalu, disaat yang sama aku ingin selalu mendengar kabar darimu. Meski hanya sepenggal kata, itu sudah cukup buatku. Cukup untuk memberikan kehangatan dan pelukan pada hati ini.

Semuanya mengalir begitu saja. Seiring dengan irama yang kau ciptakan. Memang itu tak mudah bagiku. Namun selama itu bisa menjadikanku selalu ada disampingmu, akan aku ikuti. Apakah aku bodoh? Aku tidak merasa demikian. Semua yang aku lakukan adalah tulus dan ikhlas dari dasar hatiku yang terdalam.

Dingin dan bekunya sikap yang kau tunjukkan, tak mengurangi perhatianku padamu. Karena aku tahu begitu banyak rintangan yang telah kau alami. Namun … tak bolehkah sedikit saja aku mendapat senyum musim semi darimu. Mampukah aku bisa bertahan terhadap semuanya ini disaat kau terlalu lama diam.

Apakah yang aku lakukan selama ini ada yang salah? Cobalah untuk berterus terang padaku, agar aku tahu dimana letak salahnya, sehingga aku bisa menggantnya dengan yang lebih baik. Dan seperti biasa kau hanya mematung tanpa ekspresi. Hingga diujung hari, aku seolah merasa tak ada artinya lagi dihadapanmu.

Sejujurnya aku tak mengerti dengan kediammu selama ini. Apakah ini isyarat yang ingin kau sampaikan agar aku menjauhimu? Ataukah kau yang ingin pergi menjauh dari duniaku? Tak perlu kau lakukan sejauh itu, karena aku masih tahu bagaimana caranya untuk membalikkan badan dan keluar dari duniamu. Hingga aku akan tersadar bahwa cinta itu diperlukan usaha dari kedua belah pihak, jika hanya aku yang berusaha berarti kamu tidak mencintaiku.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan