Alam Itu Menyapaku

HUJAN

Saat itu cuaca mendung dengan awan hitam yang sangat gelap. Kupercepat langkahku agar sampai di tempat yang aku tuju. Namun apa daya baru beberapa langkah hujan turun dengan lebatnya. Basah kuyup semua tubuhku. Dengan sangat terpaksa aku berteduh di emperan toko.  Keesokan harinya aku membawa payung, karena aku tidak mau kecolongan lagi dengan datangnya hujan. Tapi apa daya hari ini cuaca cukup cerah bahkan matahari bersinar dengan teriknya. Payungku pun hanya aku bawa tanpa aku pakai.

Hingga di lain hari aku berangkat dengan buru-buru ke kantor karena bangun kesiangan. Tapi memang jalan yang aku lalui sedang tidak bersahabat. Kemacetan di mana-mana, arus lalu lintas menjadi tersendat, seolah-olah sengaja membiarkan aku datang terlambat sampai kantor. Namun tatkala aku ingin berangkat dengan santai sembari menikmati pemandangan sekeliling, justru bunyi klakson sering terdengar di belakang motorku agar aku mempercepat lajuku.

Apakah ini yang disebut dengan ketidakmujuran? Atau kemalangan. Atau kalau orang Jawa bilang lagi “apes”. Keadaan seolah tidak mau bersahabat denganku. Mereka sengaja meledek, menghina bahkan tertawa terbahak-bahak agar aku menjadi sebal atau jengkel. Mengapa aku harus sebal? Mengapa aku tidak mencoba untuk berteman dan bersahabat dengan keadaan ini?

Aku melupakan satu hal, tatkala setiap keinginanku tidak terpenuhi saat ini, tak ada salahnya aku selalu tersenyum. Walaupum senyum itu terasa kecut. Tapi tak apalah. Seperti mentari yang selalu terbit dari ufuk timur demikian aku juga akan selalu menyambut keadaan ini dengan tangan yang terbuka.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan