Ampunilah

forgive

Pagi itu, pak Tama dibawa oleh prajurit kerajaan menghadap sang Raja. Pak tama terlihat sangat ketakutan. Ia merasa hal buruk akan terjadi dalam hidupnya, dalam keluarganya.

“Pak Tama, bukankah hari kemarin adalah jatuh tempo untuk membayar hutangmu?” tiba-tiba sang raja bertanya dengan tegasnya.

“Ampun baginda raja! Hutang hamba pasti akan saya lunasi, tapi sekarang hamba belum mempunyai uang sama sekali,” jawab pak Tama sambil berlutut memohon belas kasihan.

Pak Tama memang mempunya hutang pada kerajaan sebesar 100 syikal perak. Dimana saat itu ia membutuhkan untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit. Namun saat jatuh tempo tiba Pak Tama belum bisa mempunyai hutang-hutangnya tersebut.

Sang raja pun memandang pak Tama dengan penuh belas kasihan. Ia adalah seorang raja yang arif dan bijaksana, hingga kepemimpinannya tersebar di seluruh wilayah kerajaan. Maka tak heran jika rakyat yang hidup di wilayah kerajaan itu hidup dengan sejahtera.

“Pulanglah, pak Tama. Aku menghapus hutang-hutangmu dan kembalilah sekarang kamu dengan keluargamu!” sang raja melanjutkan perkataannya.

“Terima kasih baginda raja,” teriak pak Tama dengan girangnya.

Sepanjang perjalan pulang, pak Tama bersyukur atas apa yang ia alami saat ini. Tak lagi ia sibuk dan bingung memikirkan hutang-hutang yang selama ini mengganggu pikirannya. Namun tiba-tiba ia bertemu dengan pak Iba.

“Hai pak Iba, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kapan kamu akan membayar hutangmu yang 5 syikal perak itu. Bukankah sudah seharusnya kamu membayarnya? Pak Tama bertanya dengan nada yang hampir marah.

“Maafkan saya pak Tama, saya belum punya uang sama sekali. Jika uangnya sudah ada, pasti akan saya lunasi,” ucap pak Iba memohon belas kasihan.

“Halah, alasan saja kamu selama ini, tapi mana buktinya?”

Tiba –tiba pak Tama memukul dan menghajar pak Iba, hingga menyebabkan pak Iba terluka parah. Lalu pak Tama pergi meninggalkan tempat itu.

Hingga beberapa hari kemudian, kejadian itu terdengar sampai ke wilayah kerajaan. Dan sang rajapun berkata kepada para prajuritnya.

“Bawa dan seret pak Tama ke sini. Masukkan ia ke penjara dan biarkan ia menikmati sisa hidupnya di tempat itu!”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan