Cahaya Hidupku

Air Mata
Sore itu bisa kurasakan angin berhembus menerpaku. Rintik hujan terdengar pelan membentur tanah. Kucium semerbak harum bunga melati yang menusuk hidungku. Namun tiba-tiba….

“Cukup, aku bilang kamu pergi sekarang!” teriak suara seorang gadis dengan isak tangisnya yang masih bisa kudengar dengan jelas. Ya, dialah Adelia kekasihku yang sangat aku cintai. Aku bisa mendengar langkah lakinya berlari menjauhiku. Dan perlahan tapi pasti suara itu telah hilang.

“Jangan marah ya, nak Satria!” Seorang wanita paruh baya mencoba menenangkanku. Aku bisa rasakan usapan tangannya yang mulai berkerut. Ditepuknya bahuku dan di tuntunnya aku ke teras rumahnya.

“Mungkin Adelia masih shock dan belum bisa menerima kenyataaan ini, Nak” tiba-tiba aku dengar suara wanita itu lagi, yang tak lain adalah mamanya Adelia.

“Ya, bu. Gak papa kok. Saya bisa merasakan bagaimana keadaan Adelia saat ini. Kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin menyerahkan surat ini untuknya.”

Sejenak aku terdiam. Hanyut aku dalam rasa itu dimana aku hendak membuka matanya lebar-lebar agar dia mengerti. Namun percuma saja. Kutarik nafas dalam-dalam. Aku keluarkan sepucuk surat. Sembari mencari apakah di dekatku ada meja. Lantas aku letakkan surat itu di atas sebuah bidang yang aku yakin itu adalah sebuah meja.

“Nak Satria, apakah Adelia sudah tahu tentang semua ini?”

“Belum bu, saya tidak tega untuk memberitahunya. Ibu lihat sendiri kan, bagaimana sikap Adelia saat tadi melihat saya!”

“Biar nanti ibu saja yang bicara sama Adelia, nak.”

“Gak usah bu, biar surat ini yang akan menjelaskan semuanya.”

“Baiklah kalau itu kemauan nak Satria.”

Tidak berapa lama aku tinggalkan rumah itu. Kudengar suara adzan magrib dari sebuah masjid. Inikah suara adzan yang terakhir aku dengar di tempat ini? Mungkin saja…

***

Akhirnya sampai juga aku di tempat ini. Dan ternyata penerbanganku masih 2 jam lagi. Aku putuskan untuk membeli makanan kecil di sebuah cafe. Sementara ayah dan ibu sedang mengurus tiket kami. Hening meskipun aku bisa merasakan suasana yang ramai saat itu. Mungkinkah ini semua akan berakhir di sini.

Tiba-tiba …

“Mas, ini pesanannya. Silakan dinikmati.”

“Terima kasih mbak.”

Namun aku merasa ada yang aneh. Suara itu. Yah aku yakin itu suara seorang wanita muda. Tapi siapa, aku coba menebak-nebak siapa gerangan pemilik suara yang khas itu.

Namun, tiba-tiba…

“Mas, ini aku Adelia. Aku minta maaf atas semua kesalahanku.”

Kudengar lagi suara yang khas itu.

“Hah, Adelia. Kenapa kamu ke sini?” Tak percaya aku saat dengar nama Adelia.

“Ya mas, ini aku Adelia. Aku minta maaf mas, karena tak seharusnya aku meninggalkanmu mas. Aku sadar aku bukan wanita baik-baik. Dan aku ingin kamu ada di sampingku mas.”

“Maksudmu?” Kudengar suaranya terbata-bata.

“Aku ingin kamu jangan pergi. Aku sudah tahu semuanya dari simbok. Tak seharusnya aku tinggalkan luka di hatimu, apalagi sudah kamu korbankan sesuatu yang sangat berharga untuk diriku. Aku mungkin tidak pantas untukmu setelah apa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku mohon mas, batalkan penerbanganmu.”

“Maaf dik, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Luka ini memang terlalu dalam untuk di tutup kembali. Jadi biarkan aku pergi membawa luka di hati ini. Aku berharap kamu bisa temukan seseorang yang lebih pantas mendampingimu. Dan aku yakin, itu bukanlah aku.”

“Mas, tapi mata ini mata …”

“Ssst… Gak usah diungkit lagi. Aku ikhlas kok. Aku ingin kamu bisa melihat indahnya dunia ini. Bukankah dulu aku sudah berjanji untuk bisa membantumu agar bisa melihat, dan sekarang aku sudah tepati janjiku.”

“Tapi mas, aku mohon ijinkan aku menjadi cahaya dalam kegelapan yang kamu alami sekarang. Aku ingin kita selalu bersama dan memperbaiki hubungan ini. Aku mohon mas!”

“Maaf dik, aku gak bisa.”

Kutinggalkan Adelia yang masih terisak-isak. Ku coba pergi dari tempat itu, agar kebimbangan dan  kemarahan ini tidak meluap. Karena aku sadar aku hanya manusia yang biasa. Aku ingin melupakan semua kenangan itu bersama gelapnya kehidupan yang aku alami sekarang. Yah semuanya telah berakhir. Namun…

***

Sore harinya, aku telah berada di depan sebuah rumah. Masih bisa ku cium harum bunga melati. Dan bisa kurasakan tanah di halaman itu telah kering.

Hingga terdengar suara wanita paruh baya yang setengah berteriak.

“Nak Satria, Apa ibu gak salah lihat? Bukan nak Satria …”

“Iya bu, ini saya Satria. Adelianya ada bu, saya mau ngajak dia jalan-jalan di taman.”

Dan akhirnya aku dengar dengan jelas suara seorang wanita pemilik suara yang khas yang tak lain adalah Adelia, kekasihku dan cahaya hidupku.

“Mas Satria…a…a…a…a…a…”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan