Cinta Itu Telah Pergi

Cinta Itu Telah Pergi

Cinta Itu Telah Pergi

Keesokan harinya aku kembali bertemu dengan perempuan itu di sebuah cafe. Kami pun terlibat obrolan yang ringan dan tanpa aku sadari membuat kami begitu akrab. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya keliling kota itu. Seharian aku habiskan waktu bersamanya. Hingga menjelang matahari kembali ke peraduannya, aku mengajaknya ke pantai untuk menikmati sepoi-sepoi angin pantai. Sambil duduk-duduk aku berikan uang itu kepadanya. Tanpa aku sadari dia langsung memelukku.

“Terima kasih, nanti uang ini aku kembalikan.”

“Iya, sama-sama. Aku ikhlas kok membantu ibumu. Semoga saja operasinya nanti berjalan dengan lancar.”

Hingga akhirnya di senja itu, dia menceritakan sebagian kisah hidupnya padaku. Dan alasan mengapa ia harus terjun dalam lembah hitam untuk menjadi seorang wanita penghibur.

“Dulu aku pikir laki-laki sama aja hanya mencari kesenangan sesaat dan terus mencampakkan wanita seenaknya sendiri. Omong kosong dengan yang namanya cinta. Dan aku keliru, ternyata masih ada laki-laki yang baik,” katanya sambil menunduk.

Aku pun hanya terdiam.

“Contohnya seperti orang yang di sampingku sekarang,” sambil dia menoleh ke arahku.

Aku seperti orang linglung mendengar kata-katanya. Dan aku pun sadar bahwa akulah, laki-laki baik yang dia maksud. Aku hanya tertawa dan kulihat dia pun juga ikut tertawa.

Sayup terdengar aku mendengar suara lemah dari mulutnya.

“Ah, senangnya hati ini, kalau laki-laki itu mau jadi pendamping hidupku. Tapi mungkin hanya mimpi belaka. Mana mungkin ada laki-laki mau dengan perempuan kotor seperti aku ini.”

Aku beranikan diri memegang tangannya dan aku tatap matanya menunjukkan keseriusanku.

“Tidak ada kata terlambat untuk membersihkan hati. Aku mau kok mendampingimu, aku janji tidak akan membiarkan berjalan sendirian.”

Matanya kembali berkaca-kaca dan tiba-tiba dia memelukku sambil terus meneteskan air mata.

***

Tanpa aku sengaja, aku mendengar sebuah cerita dari teman kekasihku, kalau kekasihku ternyata menderita penyakit sifilis yang sudah akut. Dia pun menceritakan bagaimana kekasihku tidak mau membeli obat untuk penyakitnya, karena lebih mementingkan kesehatan ibunya. Dari situlah aku jadi terharu.

Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan kekasihku. Bukannya aku jadi takut untuk meninggalkannya setelah tahu akan penyakitnya, tetapi justru aku semakin sayang dan akan menjaganya sampai selamanya. Sampai penyakitnya sembuh. Itulah janjiku.

***

Hingga saat itu datang, seperti tanpa ku percayai, kekasihku telah meninggalkan dunia ini. Untuk selamanya dia telah menutup mata. Meninggalkanku sendirian dan tanpa aku bisa menepati janjiku untuk selalu menjaganya. Hingga akhirnya kubaca sebuah surat peninggalannya.

To : My Lovely …..
Dear, terimakasih kamu sudah mau jadi pendamping aku selama ini… terimakasih juga sudah mau menjadi malaikat penyelamat untuk ibu aku… Andaikan kamu tahu aku punya penyakit seperti ini, aku yakin kamu pasti kecewa terus meninggalkan aku. Aku yakin sekali makanya aku merahasiakan senua ini semua… maafin aku ya? Dear, kamu laki-laki paling baik yang pernah aku temui, kamu mau terima aku apa adanya.. Aku perempuan kotor, miskin, keluarga berantakan, tapi kamu tetap mau deket sama aku. Andaikan aku sudah tidak hidup lagi di dunia ini, kamu jangan sedih ya? Masih banyak perempuan yang lebih baik dari aku.. Kamu orang baik, harus punya pendamping yang baik juga. Ingat, jangan lagi datang datang ke tempat kotor seperti itu lagi. Setebal apapun iman kamu, pasti bisa runtuh juga. Dear, walaupun dunia kita sudah berbeda, aku tetap ada di hati kamu kan? Janji ya? Aku akan selalu disamping kamu, aku akan terus menjaga kamu… Maaf andai selama ini aku dan keluarga sudah menyusahkan kamu. Aku sayang kamu.

Goodbye…

Comments

comments

Tinggalkan Balasan