Debora

cincin

Senyum indahmu tak pernah lekang oleh waktu. Tak kan berkarat maupun layu. Pancaran dan pesonanya selalu sertai langkah dan arahku. Meskipun di ujung jalan semuanya telah berakhir. Dan aku harus menyelesaikannya sendirian. Tanpa kehadiranmu.

Sebuah pemandangan yang ingin segera aku akhiri. Mungkin aku seorang pengecut. Aku telah kalah dan menjadi pecundang. Tapi dengan lapang dada aku telah memenuhi janjiku untuk datang ke tempat ini.

“Saudara Adam Jonatan, apakah anda bersedia menerima saudari Debora menjadi isteri satu-satunya dalam hidup anda. Menyayanginya dalam suka dan duka, sampai mau memisahkan kalian berdua?”

Ingin rasanya aku hentikan waktu ini. Suara itu terdengar dengan jelas dan mengoyak dinding hatiku. Bergema terus menerus di telingaku.

“Ya, saya bersedia …” ucap Adam dengan wajah yang penuh dengan bahagia. Kutatap wajah manis Debora yang memancarkan senyum. Senyum yang tanpa ia sadari telah berubah menjadi pedang yang menusuk jantungku.

Air mata ini tak kuasa untuk kubendung. Mengalir setetes demi setetes membasahi pipiku. Tak kuasa lagi aku harus tetap ada di tempat ini. Kuberanjak dan melangkah keluar. Dengan rasa putus asa, kulambaikan tangan dan masuk ke dalam taksi.

“Bandara, pak!” ucapku dengan lirih.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan