Delapan Januari

Kisah Perjuangan Ibu

Hari ini tanggal 7 Januari. Malam minggu yang identik dengan waktu untuk berkunjung dengan pacar. Namun hal itu tak berlaku buat diriku.

“Ya bu, nanti tanggal 31 aku pulang!” kataku pada ibu. Saat itu aku sedang menelpon ibuku. Senang rasanya bisa mendengar suara ibu. Mendengar tawanya dan candaannya.

“Nanti ibu mau handphone yang model apa?”

“Terserah, yang pasti cara pakainya mudah dan gak ribet.”

Aku telah berjanji pada ibuku untuk membelikannya sebuah handphone. Ibu tidak meminta yang mahal, yang penting bisa ibu bisa memakainya. Begitulah ibu yang tidak pernah mengeluh. Selalu bisa menerima setiap keadaan.

Aku sangat bahagia saat bisa mendengar suara ibu. Salah satu alasan aku sering pulang ke kampung karena aku rindu bertemu dengan ibu. Seperti ada kedamaian dalam hati ini.

Kuhabiskan malam itu di tempat tidur sambil nonton TV. Cahaya lampu dikamar ukuran 3  x 3 menemani diriku saat aku membolak-balik majalah “PULSA”. Majalah yang aku beli tadi sore, untuk acuan beli handphone. Yap, besuk siang aku berencana untuk membeli handphone buat ibuku.

Tanpa terasa aku lihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku mencoba sms ke ibu dan ternyata ibuku belum tidur. Ibu masih ngobrol dengan adikku perihal tentang tas yang mereka suka.

Dan akhirnya aku kirimkan satu sms lagi untuk mengucapakan selamat malam dan memberitahu ibu kalau aku mau tidur. Dalam hati aku tidak sabar untuk cepat-cepat membeli handphone dan segera pulang ke kampung.

Sayup-sayup mataku mulai berat. Dan akhirnya aku pun tertidur dengan pulasnya.

Hingga esok pagi …

Seperti ada suara, dan ternyata handphone ku berbunyi. Dengan mata yang belum terbuka dengan benar dan kondisi masih ngantuk, aku lihat handphone. Kulihat samar-samar nama adikku. Aku sedikit jengkel karena ia pagi-pagi sudah menelpon. Saat itu jam 7 pagi, hari minggu tanggal 8 Januari.

Aku angkat handphone dan setengah sadar aku mendengar suara adikku sambil menangis.

“Mas, pulang mas. Ibu sudah tidak ada.”

Aku hanya duduk lemas tak berdaya mendengar suara adikku. Ternyata semalam adalah saat terakhir aku berbicara dengan ibu.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan