ERSA (Duri Cinta)

Duri Dalam Cinta_duri dalam cinta

Sore itu aku bergegas untuk pergi ke kafe. Bukan untuk bersenang-senang, bukan pula untuk menghabiskan waktu. Sebuah lagu telah aku siapkan sejak hari-hari kemarin berharap para pengunjung kafe menyukainya.

Begitulah aku menghabiskan waktu malamku dengan menjual suara dari kafe ke kafe. Memberikan alunan nada yang indah bagi mereka yang mendengarnya. Semua ini aku lakukan buat Ersa, wanita yang satu tahun ini mengisi hari-hariku. Ersa yang hidupnya ingin aku bahagiakan, meski aku hanya seorang musisi jalanan.

“Bro, ini bayaranmu malam ini!” kata seorang laki-laki paruh baya memecah lamunanku.

Kudengar suara pak Rudi, pemilik kafe sambil beliau menghampiriku yang duduk sendirian. Malam ini ternyata malam keberuntunganku, sebuah amplop warna putih berisi tiga lembar uang seratus ribu. Terima kasih Tuhan buat rejeki-Mu hari ini.

Segera aku pergi meninggalkan kafe itu, berjalan menyusuri gelapnya jalanan malam. Kuhentikan langkahku di depan toko bunga, kupesan seikat bunga mawar. Kenapa bunga mawar? Itulah bunga kesukaan Ersa.

Dan tanpa berlama-lama, kupacu motorku ke rumah Ersa. Namun rumah itu tampak sepi dan seperti tak ada kehidupan. Tak ada pintu yang terbuka saat aku mengetuknya.

“Ah, mungkin Ersa sedang tidur. Lagian ini juga udah malam,” pikirku dalam hati.

Kuletakkan bunga itu di sebuah meja di teras depan. Berharap esok pagi saat Ersa membuka pintu, dijumpainya bunga dari aku yang mencintainya.

***

“Wah, kenapa tiba-tiba turun hujan.”

Hujan tiba-tiba turun saat aku sedang dalam perjalanan pulang ke kost. Tak mau ambil resiko, segera kutepikan motorku didepan sebuah restoran. Kebetulan ada pos jaga di depannya.

Perlahan kubersihkan sisa-sisa air yang mengguyur wajahku. Sesekali sambil memandang kearah restoran. Restoran yang cukup mewah dan mungkin hanya untuk orang-orang yang berkantung tebal. Bahkan di halaman restoran pun tidak terdapat sepeda motor, semuanya mobil roda empat keluaran terbaru.

Seolah ada duri yang menusuk jantungku, di ujung ruangan aku melihat serorang wanita yang sedang tersenyum sambil menikmati hidangannya. Ditemani oleh laki-laki berdasi dan wanita itu menerima sebuah cincin darinya. Wanita yang kelak mau mendampingiku, namun kini ia telah menancapkan duri cinta dihatiku.

Aku terluka dan pulang. Sembari melepas duri-duri yang semakin tajam menusuk.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan