Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu

Seorang ibu merasa sangat sedih dan terpukul dengan perilaku anak lelaki satu-satunya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari anaknya itu selalu melakukan tindakan yang tidak terpuji. Melakukan tindakan yang merugikan penduduk desa. Berulang kali ibu tersebut menasehati anaknya itu. Dan juga tak ketinggalan para penduduk desa berusaha menyadarkan anak laki-laki itu. Tapi semuanya sia-sia dan makin bertambahlah kejahatan yang dilakukannya setiap hari.

Hingga akhirnya atas perbuatannya yang sudah dianggap melewati batas dan menghilangkan nyawa orang lain, anak laki-laki itu mendapatkan hukuman mati. Hati sang ibu sangat-sangat remuk. Dia tak menyangka anaknya sudah terlalu jauh menyimpang dari jalan yang benar. Ia berusaha memohon pengampunan dari pemimpin desa, namun semuanya sia-sia. Bahkan saat didalam penjara, anak laki-lakinya itu tidak menunjukkan penyesalan. Pemimpin desa memberitahukan bahwa pelaksanaan hukuman mati akan dilakukan besok dimana lonceng akan berdentang pukul 6 pagi. Sang ibu pun pulang dengan bercucuran air mata.

Keesokan harinya, tibalah saat untuk eksekusi hukuman mati. Seluruh penduduk desa sudah berkumpul di alun-alun desa. Mereka ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman itu. Waktu terus mendekati pukul 6 pagi. Beberapa detik kemudian lonceng akan segera berbunyi. Namun sesuatu yang aneh. Lonceng itu tak berbunyi sama sekali, dan waktu telah menunjukkan jam 6 lebih beberapa menit.

Dan ternyata setelah diperiksa, di dalam lonceng itu tergantung tubuh sang ibu yang berusaha menghentikan bandul lonceng tersebut. Dan akibatnya tubuh sang ibu berlumuran darah berbenturan dengan dinding lonceng. Sang ibu bermaksud untuk menghindarkan hukuman mati atas anaknya. Ia hanya ingin melihat anaknya tetap hidup walaupun harus dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

Kasih sayang ibu tidak pernah ada batasnya. Ingatlah selagi kita masih bisa melihat senyuman yang terukir diwajahnya, jangan pernah membuatnya meneteskan air mata. Sebelum semuanya terlambat dan tak kan bisa kita ulang kembali.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan