Kejujuran Calon Raja

Calon Raja

Hiduplah seorang  raja yang arif dan bijaksana. Kerajaan yang dipimpinnya benar-benar menjadi kerajaan yang makmur. Rakyat hidup dengan sejahtera. Hingga usianya yang sudah lanjut, sang raja pun ingin sekali beristirahat di sisa hidupnya. Namun ia masih bingung siapa yang hendak ia tunjuk menjadi raja berikutnya, sedangkan ia sendiri tidak mempunyai anak satu pun.

Akhirnya sang raja pun mengadakan sayembara. Dikumpulkannya seluruh pemuda-pemuda desa yang ada di wilayah kerajaannya.

“Hari ini, aku kumpulkan kalian karena aku ingin memilih salah satu diantara kalian untuk menjadi raja menggantikan aku. Namun sebelum itu, setiap dari kalian akan di berikan masing-masing satu biji tanaman. Tugas kalian adalah menanam biji itu dan membawanya kemari tahun depan di hari dan jam yang sama,” kata sang raja dengan serius.

“Hanya yang bisa menumbuhkan tanaman terbaiklah, yang akan aku angkat menjadi raja!” sang raja melanjutkan kata-katanya.

Hal dipandang baik oleh seluruh pemuda-pemuda yang ada disitu. Tak terkecuali oleh Jatayu, salah seorang pemuda yang hanya tinggal bersama ibunya di ujung desa.

Sesampainya dirumah, Jatayu, menceritakan kepada ibunya perihal dia mengikuti sayembara yang diadakan sang raja. Sang ibu pun tersenyum dan tetap mendukung keputusan Jatayu. Tak lupa ia memberikan semangat agar Jatayu tetap tekun merawat biji tanaman itu agar bisa tumbuh dengan baik.

Beberapa minggu kemudian, Jatayu mulai khawatir karena biji tanamannya belum tumbuh tunas sedikitpun. Berbeda dengan biji tanaman milik teman-temannya. Biji tanaman mereka telah tumbuh dan terus tumbuh. Jatayu pun merasa ada yang salah dengan sikapnya merawat biji tanaman itu.

“Jatayu anakku, tak perlu berkecil hati. Lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan untuk biji tanaman itu. Jangan pernah menyerah dan tetap lakukan saja yang terbaik!” kata sang ibu dengan penuh kasih sayang.

Satu tahun telah berlalu, dan biji tanaman milik Jatayu pun tidak tumbuh sama sekali. Pada hari yang telah ditentukan untuk menghadap sang raja, Jatayu enggan untuk datang. Ia merasa malu dan takut untuk bertemu dengan sang raja.

“Jangan begitu anakku,” kata ibunya.

“Bukankah kamu sudah berniat mengikuti sayembara itu. Dan sudah selayaknya kamu harus menyelesaikan sampai akhir. Tak peduli biji tanaman milikmu tidak tumbuh sama sekali. Setidaknya kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Jatayu pun mendengarkan nasehat ibunya dan pergi menghadap sang raja dengan pot yang tidak ada tanamannya.
Segera tak berapa lama kemudian, Jatayu telah berada di halaman istana kerajaan. Disitu juga dilihatnya pemuda-pemuda yang lain dengan tanaman mereka masing-masing. Jatayu hanya menunduk saat teman-temannya mengejek dia, sebab hanya miliknya pot tanaman yang tidak ada tumbuh tanamannya.

Sang raja pun mulai memeriksa setiap pot tanaman yang di bawa para pemuda itu. Satu per satu ia melihat dengan teliti.  Seolah-olah ia sedang mencari sesuatu. Hingga akhirnya ia berdiri dihadapan ali.

“Anak muda, siapa namamu? Mengapa pot tanaman milikmu tidak ada tanamannya sama sekali?” tanya sang raja.

Dengan gemetaran Jatayu pun menjawab “Maaf baginda raja, nama hamba Jatayu. Hamba sudah berusa dengan baik untuk merawat biji tanaman yang baginda raja berikan. Tapi hamba juga tidak mengerti mengapa biji tanaman itu tidak tumbuh sama sekali.”

Sang raja pun lalu memanggil Jatayu maju ke depan. Jatayu benar-benar merasa ketakutan, karena ia akan mendapat hukuman yang berat dari sang raja. Keringatnya terus mengalir di wajahnya. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.

Dengan lantang sang raja pun berkata “Hari ini aku umumkan siapakah yang akan menjadi raja menggantikan aku. Dia adalah Jatayu, pemuda yang saat ini berada disampingku. Tentu kalian masih ingat dengan biji tanaman yang aku berikan pada kalian setahun yang lalu. Biji-biji tanaman itu adalah biji tanaman yang mandul karena telah dipotong bakal tunasnya. Dan sudah pasti biji tanaman itu tidak akan tumbuh, sedangkan milik kalian mengapa bisa tumbuh sebab kalian telah menukarnya dengan biji tanaman yang lain.”

“Kecuali anak muda ini. Ia telah melakukan semuanya dengan penuh kejujuran. Tak peduli walaupun itu adalah hal yang memalukan baginya. Orang jujur seperti inilah yang aku butuhkan untuk melanjutkan cita-citaku dan membangun kerajaanku,” kata sang raja dengan bangganya.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan