Malaikat Kecil Itu Mengetuk Hatiku

Mengetuk Hati

Mengetuk Hati

“Kak, mau beli koran?” tiba-tiba suara seorang anak perempuan menyadarkanku.

“Maaf ya dik, kakak sudah beli koran?” sahutku sambil kutunjukkan koran milikku.

“Mungkin kakak mau beli permennya?”

“Tidak dik, terima kasih.”

“Atau kakak mau beli tisu?” tanya anak perempuan itu kembali. Aku hanya menggeleng. Dan dia terus menerus menawarkan barang dagangannya yang lain. Hingga akhirnya sampai batas kesabaranku, aku tinggalkan anak perempuan itu di tengah teriknya mentari saat itu.

Aku langkahkan kakiku menuju halaman sebuah gedung. Aku lihat arlojiku, waktu istirahat siang telah usai. Bergegas aku untuk kembali menyelesaikan pekerjaanku. Ada sedikit perasaan kesal akibat anak perempuan tadi yang terus menerus menawarkan dagangannya padaku. Aku lihat ke belakang, dia masih dengan semangatnya menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Hingga pandanganku terhalang oleh pintu, dan tidak lagi dapat kulihat wajahnya yang selalu ceria dan tersenyum.

Menjelang matahari bergerak ke ufuk barat, bergegas aku untuk kembali pulang. Tanpa aku sadari, anak perempuan itu masih ada di sana.

“Kakak mau pulang? Mungkin kakak mau beli permen?” anak perempuan itu kembali menawarkan dagangannya.

Sejenak aku terdiam lalu aku keluarkan selembar uang dua ribuan dan aku berikan kepada anak perempuan itu. Pikirku mungkin setelah ini dia tidak lagi menggangguku.

“Ini, terimalah buat kamu?”

Anak perempuan itu hanya terdiam.

“Tidak apa-apa, ambil aja!”

Lalu diambilnya uang itu dari tanganku. Ada perasaan lega di hatiku. Namun aku melihat sesuatu yang mengejutkan. Sejenak anak perempuan itu berlari kepada seorang pengemis yang ada di situ dan memberikan uang itu kepadanya.

“Mengapa kamu berikan uang itu kepada pengemis?” tanyaku dengan penasaran

Dengan polosnya anak perempuan itu menjawab, “Kata ibu, aku bukan pengemis. Aku tidak boleh menerima uang yang bukan hasil kerja aku. Walaupun aku dan ibu tidak punya apa-apa tapi kami tidak boleh meminta-minta. Kami harus bekerja dengan keringat kami sendiri. Begitu kakak.”

Tidak dapat aku percaya mendengar jawaban anak perempuan itu, yang seolah melepaskan aku dari belenggu kebosanan. Aku telah menyia-nyiakan pemberian Yang Maha Kuasa selama ini, hingga dikirimkanNya malaikat kecil untuk mengetuk dan membuka hatiku. Untuk selalu mensyukuri setiap rahmat dan karuniaNya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan