Masih Ada Maaf Bagiku

Hati Suci

Pada awalnya aku adalah seorang suami yang istimewa, ayah yang baik hati bahkan kepala keluarga yang bertanggung jawab. Namun itu dulu, sebelum aku pergi meninggalkan isteri yang kucintai dan seorang anak perempuan, buah hatiku. Kini aku tak lagi bisa bertemu dengan mereka bahkan bisa dipastikan mereka tak kan sudi melihat diriku kembali.

Sudah  lima tahun aku menghabiskan waktuku didalam jeruji besi. Tak pernah aku duga, kejahatan demi kejahatan yang aku lakukan menyebabkan aku kehilangan semuanya. Kehilangan keluargaku, kehilangan kebebasanku. Dengan ikhlas aku jalani semuanya itu. Di tempat inilah aku mulai berubah untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Terlebih lagi besuk adalah hari yang aku tunggu. Hari kebebasanku.

“Terima kasih, Tuhan” ucapku dalam hati.

Kulangkahkan kaki menyusuri lorong menuju pintu keluar. Aku berharap ada seseorang yang menungguku diluar. Namun aku harus berlapang dada. Tak seorangpun datang menyambut kebebasanku. Tak ada isteriku di sana. Tak ada pula anak perempuanku yang menungguku. Bahkan sampai saat ini tak pernah ada balasan surat dari mereka untukku.

“Masih layakkah aku untuk menemui mereka? Apakah mereka masih mau menerima keberadaanku saat ini?” Aku hanya menghela nafas dalam-dalam. Tak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu.

Segera aku naik bus yang lewat depan rumahku. Berharap kalau-kalau masih ada kesempatan buatku. Dan kalaupun mereka tak mau menerimaku kembali, akupun akan ikhlas menghadapinya semua sendirian.

Sepanjang perjalanan, hatiku tak tenang. Selalu terbayang kemungkinan terburuk yang menanti di depan. Beberapa blok lagi, aku tiba kembali di rumah yang telah aku tinggalkan bertahun-tahun. Namun dari kejauhan ada yang aneh. Rumah itu tampak sepi, seolah lama tak berpenghuni.

“Haruskah aku turun dari bus ini?”

Aku lihat di depanku, berdiri sebuah rumah yang mungil. Pekarangan yang penuh bunga dan rumput hijau. Kuberanikan melangkah masuk ke halaman rumah itu. Aku ketuk pintu dengan pelan.

“Tok … tok …tok …”

Namun tak ada yang menyahut. Dan kuulangi lagi sampai tiga kali, hasilnya pun tetap sama. Aku pun merasa putus asa. Memang saatnya aku harus pergi dari sini.

Tiba-tiba …, pintu itu terbuka.

Aku menoleh ke belakang. Terlihat dihadapanku seorang perempuan dan anaknya berdiri di depan pintu, mengulurkan tangan dengan sambil tersenyum.

Dan berkata “Mari masuk, kami telah lama menantimu.”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan