Meja Penggapai Cita-cita

MEJA

Aku terlahir sebagai anak pertama dari 5 bersudara. Tinggal di sebuah kontrakan yang luasnya tidak lebih dari 8m2. Didalamnya hanya terletak sebuah meja kecil berwarna coklat dan sebuah lemari. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku.

Sebelum kami tinggal dikontrakan, dulu ibu mempunyai rumah dan beberapa peralatan yang lain. Namun setelah ayah telah tiada dan rumah kami dijual, perlahan-lahan sebagian perabotan rumah juga ikut terjual demi menyambung kebutuhan hidup kami sekeluarga.

Ibu hanya bekerja sebagai buruh cuci dan penghasilan yang ia dapat hanya cukup untuk membeli beras satu liter dan beberapa lauk pauk. Terkadang kami hanya makan sehari satu kali, dikarenakan tak ada lagi beras yang bisa untuk di masak.

Suatu ketika di siang hari, adikku yang paling kecil tiba-tiba menangis. Ia menghampiri ibu dan berkata “Bu, aku lapar.”

Ibu yang tak bisa berkata apa-apa, langsung pergi ke dapur. Pikirku ibu akan mengambilkan nasi buat adikku, tapi aku ingat bahwa beras kami sudah habis, dan sejak pagi ibu belum masak nasi. Terlihat air mata ibu jatuh berlinang, namun cepat-cepat ia mengusapnya. Ibu lantas mengambil beberapa buah piring dan pergi ke luar rumah.

“Apa yang ibu lakukan dengan piring-piring itu?” pikirku dalam hati.

Tak berapa lama ibu kembali dengan membawa beberapa lembar uang yang lusuh. Ibu lantas menyuruhku pergi ke warung untuk membeli satu liter beras. Dan hari itu adikku dan kami semua bisa makan walaupun tanpa lauk.

Hingga suatu ketika …

“Bu, semua perabotan rumah telah dijual. Bahkan lemari, dan beberapa pakaian ibu juga ikut terjual. Bukankah lebih baik menjual meja kecil itu daripada pakaian ibu nanti lama-lama habis!” tanyaku pada ibu yang saat itu sedang membereskan baju-bajunya.

Ibu hanya tersenyum. Menatap wajahku dan meletakkan tangannya dipundakku.

“Selapar apapun kita, ibu sekali-kali tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk menggantungkan cita-citamu nak. Pakailah terus meja itu!”

Ibu lantas beranjak pergi ke rumah tetangga dengan membawa pakaian-pakaian yang hendak dijualnya. Aku hanya tertunduk lemas mendengarnya. Sebuah ungkapan dari seorang ibu yang selalu menyayangi kami.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan