Menancapkan Paku

paku-dan-pagar

Adalah seorang anak muda yang mempunyai tabiat sangat buruk. Ia selalu saja marah dan mengucapkan kata-kata yang kasar pada siapa saja, jika itu tidak sesuai dengan kehendaknya. Anak muda itu terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Sudah banyak orang-orang yang tertusuk perkataan tajamnya.

Suatu kali anak muda itu bertemu dengan seorang kakek tua yang tinggal dipinggiran desa.

“Hai, anak muda. Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Maaf kek, saya mencari kalau-kalau ada seseorang yang mau berbicara dengan saya,” balas anak muda sambil tertunduk.

Akhirnya anak muda itu menceritakan pada kakek tua apa yang terjadi dalam hidupnya. Semua orang di desa menjauhinya karena perangai buruknya itu. Padahal anak muda itu sudah meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada orang-orang. Tapi tetap saja tidak ada seorangpun yang mau berkawan dengan anak muda itu lagi.

Lalu kakek tua itu mengajak anak muda ke belakang rumah. Disuruhnyalah anak muda untuk menancapkan paku dinding rumah yang terbuat dari papan. Satu paku telah tertancap, dua paku, tiga paku hingga akhirnya lima puluh paku telah tertancap pada papan itu.

Tidak berapa lama kemudian, kakek tua itu kembali menyuruh anak muda itu mencabut paku-paku itu. Beberapa menit kemudian seluruh paku itu telah terlepas dari papan itu.

“Apa yang kau lihat sekarang anak muda.”

“Dinding papan itu penuh dengan bekas dari paku yang tertancap,” jawab anak muda sambil memandang ke arah kakek tua.

Kakek tua hanya tersenyum dan meninggalkan anak muda itu seorang diri.

Bijaklah kita dalam berkata-kata. Berpikirlah dahulu sebelum kita yakin bahwa kata-kata ini tidak menyakiti perasaan orang lain. Perkataan yang telah keluar dari mulut, tak akan mungkin bisa ditarik kembali. Kita bisa saja dengan mudahnya menyesal dan meminta maaf atas setiap perkataan yang melukai orang lain. Namun akan selalu bekas luka yang timbul dari perkataan itu.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan