Menguji Cinta

Menguji Cinta

Menguji Cinta

Kali ini kami menatap langit kelabu. Perempuanku begitu asyik memainkan titik-titik air yang memenuhi permukaan kelopak mawar kesukaannya. Aku tahu bahwa dia tengah gusar dan ternyata memang benar.

“Mas, aku mau mengatakan sesuatu.”

“Katakan saja.”

“Kau masih ingat dengan pria yang berada di cafe kemarin?”

“Tentu saja. Bukankah dia mantan kekasihmu?”

“Dia masih mencintaiku dan juga menginginkan diriku kembali.”

“Kau masih mencintainya? Bukankah dia telah menyakitimu?”

“Dia telah berubah dan aku sudah memaafkannya. Kau juga tahu bahwa dia hadir dalam kehidupanku jauh sebelum aku mengenalmu.”

“Kembalilah padanya jika memang aku tak bisa memenangkan hatimu.”

“Kau yakin dengan perkataanmu itu?”

“Aku tak pernah main-main jika semua itu menyangkut kebahagiaanmu.”

Aku memilih untuk pergi meninggalkannya. Bukan karena aku tak mau menemaninya lebih lama, namun karena aku tak ingin dia menemukan air mata di pipiku. Aku tak ingin dia menemukan kecemburuan di mataku. Aku hanya tak siap dengan sebuah kehilangan.

“Kau benar bahwa kebahagiaan itu penting. Dan kau perlu tahu satu hal sebelum meninggalkanku di sini, Mas. Aku tak akan pernah bisa bahagia tanpamu.”

Perempuanku memelukku. Erat sekali. Aku bisa merasakan senyuman manis terukir pada wajahnya. Namun dia tak pernah menyadari bahwa ia baru saja menggoreskan luka dalam hatiku. Aku telah cemburu.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan