Menutup Pintu

tutup pintu

Di pagi yang cerah, seorang negarawan sedang bermain golf dengan salah seorang teman dekatnya. Mereka adalah sahabat sejak masih kecil. Dibesarkan dilingkungan yang sama tetapi mempunyai kehidupan yang berbeda. Negarawan itu tak terlalu mempedulikan status kawannya yang hanya rakyat biasa, bagi dia kawanya adalah tetap sahabat terbaiknya.

Selesai bermain golf, mereka berdua lantas pulang dan melewati sebuah ladang yang sekelilingnya terdapat pagar. Ladang itu adalah tempat kawanan sapi mencari makan (rumput). Bahkan sesekali mereka masuk ke dalam ladang untuk melihat sapi-sapi itu dari dekat. Karena asyik berbicara dan hendak meninggalkan tempat itu, mereka lupa menutup kembali pintu ladang berpagar itu.

Namun negarawan itu sempat melihat pintu masih terbuka, dan berbalik untuk menutupnya kembali. Kemudian ia menceritakan pada kawannya tentang insiden kecil ini. Dimana beberapa tahun yang lalu ada seorang dokter yang tengah sekarat berbicara kepadanya. Sepanjang hidupnya dokter itu selalu menutup pintu masa lalunya. Ia belajar untuk meninggalkan kegagalan dan kekecewaan agar tidak merampas sukacita dan kebahagiaan di masa yang akan datang.

Memang kita hanyalah manusia biasa yang sering untuk berbuat salah dan menimbulkan kegagalan. Namun kita bisa menutup pintu kegagalan dan perasaan bersalah agar tidak menghambat langkah kita untuk terus maju. Dan jikalau ada salah paham dengan sahabat atau teman kita, daripada timbul kejengkelan yang terus meracuni diri kita, tidak ada salahnya kita segera datang menghampiri sahabat kita dan meluruskannya.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan