Nasi Goreng Untuk Istriku

Nasi Goreng

Di kala senja itu, kulihat cuaca agak mendung. Aku lihat jalanan sangat macet. “Wah bisa-bisa kemalaman sampai rumah nih,” gumamku dalam hati.

“Bang, kiri bang!” teriakku pada abang sopir angkot.

Aku pun turun dan aku keluarkan uang lima ribuan. Sambil melihat ke atas di mana cuaca yang semakin tidak bersahabat, bergegas aku menyusuri jalanan setapak.

Tiba-tiba aku hentikan langkahku di warung tenda penjual nasi goreng.

“Bu, nasi gorengnya satu jangan pedes-pedes dibungkus ya,” kataku kepada ibu penjual nasi goreng.

“Iya mas, silakan duduk dulu ya.”

Tak berapa lama tetesan air hujan turun dengan serentak. Dan mereka pun datang keroyokan. Wah bagaimana ini, mana gak bawa payung,” gerutuku sambil menengadahkan tanganku di bawah guyuran air hujan.

“Mas, gak di makan di sini saja, mumpung lagi hujan?” tiba-tiba ibu penjual nasi goreng memudarkan lamunanku.

“Ah, enggak bu. Nasi goreng itu buat isteri saya.”

“Oh, buat isterinya to.”

Tak berapa lama.

“Ini mas nasi gorengnya, ditunggu aja dulu mas biar hujannya reda dulu,” katanya sambil menyerahkan nasi goreng pesananku yang sudah di masukkan ke dalam kantung plastik.

“Terima kasih bu, saya langsung saja.”

Aku lepas jaket ku untuk menutupi bungkusan plastik nasi goreng.

“Mengapa aku harus menunggu lama di jalanan, jika isteriku telah menunggu aku seharian. Mengapa aku harus menghabiskan waktu di luar, jika aku bisa mendapatkan waktu bersama isteriku. Mungkin hanya kontrakan tiga petak, tetapi selalu kutemukan kebahagiaan di sana dan di wajah isteriku yang dengan setia menungguku setiap hari,” kataku dalam hati sambil berlari menembus guyuran hujan yang semakin lebat.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan