Overload

talk-to-the-hand

Suatu ketika seorang wanita paruh baya mengunjungi rumah tetua yang ada di desanya. Ia merasa hidupnya sangat kesepian. Tak seorangpun mempercayai apa yang dikatakannya. Para warga desa sudah tak lagi menganggap keberadaannya dan sempat tersiar kabar bahwa mereka hendak mengusir wanita itu pergi dari desa.

Mendengar cerita dari wanita yang mengunjungi, tetua desa pun bertanya “Apakah sebabnya para warga desa tak lagi percaya padamu? Memang apa yang sudah kamu lakukan terhadap mereka?”

Dengan wajah tertunduk dan perasaan yang malu, wanita itu menceritakan semuanya. Ia seringkali melebih-lebihkan apa yang ia dengar lalu menceritakannya pada orang lain. Para warga menjadi curiga dan tak lagi percaya pada setiap ucapannya. Ia ingin berusaha menghilangkan kebiasaannya buruknya itu namun tak semudah yang ia bayangkan.

Sambil meneguk minuman tehnya tetua itu melanjutkan perkataannya.

“Apakah kamu suka berbohong?” tanya tetua desa dengan santainya.

“Saya rasa tidak,” jawab wanita itu dengan percaya diri.

Sembari menunjukkan wajah seriusnya, tetua desa itu melanjukan kembali kata-katanya. “Lantas apa bedanya dengan yang selama ini kamu lakukan? Kamu suka membesar-besarkan cerita yang kamu dengar. Bukankah itu sama saja kamu telah berbohong karena kamu tidak mengatakan sesuai dengan kebenarannya. Kamu hanya terpaku pada istilahnya padahal itu mempunya arti yang sama dan tak pernah kita sadari.”

Wanita itu seperti tertusuk mendengar perkataan tetua desa. Ia sudah menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Ia bertekad untuk mengatakan segala sesuatu sesuai dengan kebenarannya.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan