Penyesalan Arini

72sorry

Kutemukan sebuah buku usang tergeletak diantara tumpukan barang barang bekas yang ada digudang. Sejenak mataku tak berkedip seolah melihat sesuatu yang istimewa. Lama penuh makna kutatap ruangan itu tanpa melewatkan setiap sudut demi sudut.

Buku itu sudah tak berwarna. Sampulnya terlihat berwarna coklat seperti tanah liat. Terlihat bekas gigitan tikus diujung di ujung kanannya. Terpampang foto ku dan seorang wanita di halaman pertama buku itu.

Selama ini yang kurasakan ada kebimbangan. Haruskah aku membencinya meskipun karena dialah aku bisa lahir di dunia ini.

“Arini…!”

“Iya nek, sebentar lagi.”

Sebuah suara parau telah memanggilku. Dia adalah nenek aku. Sejak usia 3 bulan kata nenek aku telah tinggal bersamanya. Dialah yang merawat dan mencukupi setiap kebutuhanku. Dialah orang yang selalu ada disaat aku memerlukan teman.

Tapi tak seperti orang yang fotonya terpampang dibuku ini. Akupun tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Mungkin hanyalah Tuhan yang tahu akan keberadaannya.

“Arini …!”

Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundakku.
Tak kudengar langkahnya datang, apakah mungkin karena aku terlalu hanyut dalam kebencian sehingga tetesan air mata ini tak tertahankan.

“Arini, apakah kamu membenci wanita yang di buku itu?”

Aku hanya diam. Tak sepatah kata yang keluar dari bibir manisku ini.

“Arini, nenek tak bisa menyalahkan dirimu jika kamu membencinya. Namun satu hal yang perlu kamu tahu bahwa semuanya itu ia lakukan karena ia sangat mencintaimu. Tak ingin sedetikpun ia ingin melihatmu hidup dalam hinaan dan cercaan.”

“Menyayangiku? Melihatku bahagia? Bagaimana mungkin. Sedangkan ia saja meninggalkan aku disini pergi ketempat yang jauh dan tak pernah kembali.”

Aku tak ingin mendengar penjelasan nenek lagi. Dan bagiku waniat itu sudah hilang dari setiap detik nafas yang aku hirup. Tak ada lagi bekas namanya yang tersisa. Hendak ku lemparkan buku tua itu jauh jauh dari depanku.

“Jika memang kau ingin mengetahui sebuah kebenaran yang tersembunyi, bacalah buku itu sampai akhir. Lalu kau boleh membuangnya. Kalau perlu membakarnya, agar tak lagi yang membuatmu kecewa.”

Kulihat nenek berlalu pergi masuk ke dalam rumah. Semakin jauh dan hilang dibalik pintu.

Perlahan tapi pasti tanpa melewatkan setiap lembarnya. Mulutku tak henti-hentinya memmbaca setiap kata demi kata yang ada di dalamnya. Hingga akhirnya sebuah tangisan keluar. Air mata yang tak terbendung lagi.

Dia yang selalu aku benci sampai saat ini, masih ada. Masih ada di sana menunggu keluar dari jeruji besi yang selama ini membelenggunya. Semua itu dilakukannya agar aku bisa hidup tanpa hinaan dan makian yang mungkin datang menghantuiku.

Sebuah kalimat lirih terucap dari mulutku. Aku sayang ibu.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan