Rela Mati

Cinta tak terbalas

Mereka adalah tiga sahabat sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Leo adalah anak seorang polisi. Pintar namun mudah terbawa emosi. Cepat sekali untuk marah, lebih-lebih jika ada yang tak sependapat dengannya. Dion, seorang anak yang tumbuh di keluarga guru. Sabar dan rendah hati. Terkadang kepribadian Dion lah yang menjadi penengah antara Leo dan Rangga. Bagaimana tidak? Rangga anak seorang yang konglomerat, tapi sikapnya seperti anak jalanan. Seenaknya sendiri.

Begitualah mereka selalu bersama sejak bangku TK sampai menginjak lulus SMA. Saling membantu dan menjaga. Meski terkadang ada perselisihan namun tak sampai memisahakan persahabatan yang sudah mereka jalin selama ini.

Suatu ketika, mereka bertiga berkumpul di rumah Dion. Seperti biasa duduk sambil ngobrol ringan. Berbagi cerita dan kebahagiaan, terkadang kesedihan juga.

“Minggu depan pacarku mau datang ke sini. Bayangkan saja dia rela menempuh jarak Surabaya ke Jakarta untuk menemuiku,” tiba-tiba Leo berucap sambil tersenyum.

Begitulah Leo yang selalu setia sama pacarnya. Dibalik sifatnya yang mudah marah, dia adalah seorang yang tak mudah berpindah ke lain hati.

“Wah, asyik dunk!” celetuk Dion.

Tak mau kalah dengan Leo, Dion melanjutkan kata-katanya.

“Pacarku juga bro, ia akan datang dari Singapura karena libur semester. Jadi kami bisa jalan-jalan bersama.”

“Halah, kalian terlalu lebay!” potong Rangga sambil memandang ke arah Leo dan Dion.

Sejenak mereka berdua terdiam mendengar ucapan Rangga.

“Maksud kamu apa Rangga? Lebay gimana?” protes Leo yang merasa di remehkan.

“Kalau pacar kalian datang dari Surabaya atau Singapura ke sini, itu sih hal yang biasa. Coba lihat pacarku, dia malah rela mati demi aku.”

“Lho kok bisa? Bagaimana mungkin bisa begitu?” Dion bertanya sambil keheranan.

Dengan santainya Rangga pun menjawab “Iya, katanya ia lebih baik mati daripada jadi pacarku.”

Gubrak …! (Leo dan Dion hampir pingsan mendengarnya)

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan