Saling Berbagi

Seorang pengemis sedang duduk-duduk di pinggiran trotoar. Didepannya berdiri sebuah kaleng susu bekas yang berisi beberapa keping uang recehan. Sesekali ia melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Lantas menunduk kembali.

Disekanya keringat yang membasahi wajah kusamnya. Tak henti ia kembali melihat orang-orang itu. Berjalan cepat seolah tak melihat keberadaannya. Sebuah senyuman demi senyuman terpancar dari wajahnya, seolah hendak menyapa namun tak ada yan menghiraukannya.

“Pak, ini ada sebotol air dan tiga buah roti untuk bapak.”

Sebuah suara dari arah samping sempat membuat pengemis itu kaget. Ia menoleh, dilihatnya seorang wanita memberikan sebuah bungkusan. Dengan gemetar diterimanya dan tak lupa ia mengucapkan sebuah kata.

“Terima kasih, nak.”

“Iya, sama-sama pak. Semoga makanan dan minuman ini bisa bermanfaat untuk bapak.”

Dibukanya bungkusan itu, diambilnya sebuah roti dan tak lama kemudian digigitnya. Diteguknya air dari botol, rasa puas terpancar dari wajahnya.

Hingga tiba-tiba …

“Pak, bolehkah saya minta tolong. Saya lapar dan belum makan apa-apa dari tadi.”

Seorang pemuda terlihat duduk disampingnya. Memandang pengemis itu dan seolah minta belas kasihan.

“Ambilah ini, saya masih ada dua buah roti!”

Pengemis itu memberikan bungkusan yang masih ada roti didalamnya.

“Terima kasih, pak!” jawab pemuda itu pelan sambil bersandar pada tembok.

“Oh iya, mengapa bapak memberikan roti ini pada saya, sedangkan tadi saya lihat roti ini pemberian dari seorang wanita yang datang sebelum saya. Bukankah bapak lebih membutuhkannya?”

“Memang benar itu adalah roti pemberian wanita tadi dan benar pula bahwa itu adalah roti saya di mana memang saya juga membutuhkannya. Namun saya rasa tidak ada salahnya saya berbagi pada orang lain yang tidak punya, sama seperti wanita tadi telah berbagi dengan saya,” jawan pengemis itu dengan santainya.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan