Saling Menuding

saling tuding

Terkadang kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan orang lain selalu merasa diri kita benar. Toh kalaupun kita salah, ada perasaan tidak terima bahwa sebenarnya kita salah. Dengan dalih untuk pembelaan diri “Kan masih ada yang lebih salah dari saya”

Adalah seorang karyawan bank bagian penagihan memberikan sebuah pemahaman tentang reaksi alamiah manusia. Berulang kali ia mendapatkan tanggapan yang tidak enak dari para pelanggan yang suka menunggak pembayaran tagihan mereka: “Pasti ada orang yang utangnya lebih besar daripada saya. Datang kembali lain kali saja, ya!”

Karyawan itu mencoba menjelaskan pada kita, “Mereka sama sekali tidak mengerti permasalahannya. Memang banyak orang yang utangnya lebih besar. Namun, saya harus memberi tahu mereka dengan sopan: ‘Masalahnya bukan orang lain berutang lebih besar. Catatan kami menunjukkan bahwa batas waktu pembayaran Anda sudah lewat!’”

Kecenderungan orang berdosa dan munafik adalah mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri dengan menuding orang lain kalau merekalah yang bersalah. Orang-orang beragama mencoba memaklumi ketidakkonsistenan mereka dengan menuding orang-orang “kafir” di sekitar mereka. Lalu orang-orang “kafir” tersebut mencoba mengelak dengan membantah hal itu, dan mengungkapkan kemunafikan kaum beragama. Semuanya saling serang dan menjatuhkan, mencari celah celah kejelekan. Namun, Allah sang pencipta langit dan bumi tidak bisa dipermainkan oleh orang-orang yang saling menuding. Tak perlu kita menghakimi orang lain, biarlah itu urusan mereka dengan Sang Khalik.

Bila kita melihat seseorang yang tampaknya memiliki lebih banyak dosa dan kesalahan daripada kita, sebenarnya itu ilusi. Semakin cepat kita menyadari bahwa tak ada orang yang lebih berutang kepada Allah selain diri kita, maka semakin cepat pula kita menerima pengampunanNya. Dia memberikan pengampunan bagi mereka yang dengan rendah hati menyadari bahwa mereka memiliki banyak sekali utang.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan