Sandal Kakek Tua

Sandal

Dengan tergopoh-gopoh aku masih bisa naik ke dalam bus itu. Meskipun nafasku hampir habis, aku masih bisa bersyukur tidak ketinggalan angkutan ini. Kupilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Perlahan angin mulai berhembus ke arah wajahku dan tiba-tiba terasa sejuk. Dan rasa kantuk pun mulai menghampiri.

Tiba-tiba….

Hei, berhenti… berhenti… Aku mendengar sedikit suara gaduh dari arah belakang. Dan ternyata seorang kakek tua yang hampir jatuh karena hendak naik bus ini. Mungkin usianya yang sudah lanjut dan kekuatan tubuhnya yang mulai pudar, menyebabkan keseimbangan tubuhnya terasa goyah. Alhasil salah satu sandalnya jatuh di jalan.

“Terima kasih, nak,” sambil berkata pada kondektu bus yang masih muda, kakek tua mulai mencari tempat duduk. Sedikit lama ia melihat-lihat tempat duduk yang kosong, dan akhirnya kakek tua duduk di bangku yang ada di depanku.

Karena suasana sudah mulai tenang, aku hendak melanjutkan tidurku. Namun ada sedikit pemandangan yang menggangguku. Kakek tua yang ada di depanku, mengambil sandal yang masih melekat pada kaki kanannya dan melemparnya keluar melalui jendela. Tak ada raut kecewa di wajahnya.

“Maaf kek, mengapa kakek membuang sandal kakek yang satu lagi?” tanyaku dengan penasaran.

Dengan tersenyum kakek tua itu berkata “Anak muda, sandalku yang kiri telah jatuh di jalan saat aku hendak naik bus ini, sedangkan sandal yang sebelah kanan masih ada padaku. Namun sandal ini tak bisa aku gunakan lagi karena tak ada pasangannya. Dengan membuangnya aku berharap sandal itu bisa bermanfaat bagi siapa saja yang menemukannya.”

Aku pun tertegun mendengar penjelasan kakek tua ini. Sebuah senyum tersirat di wajahnya yang seolah mengatakan bahwa kebaikannya itu tak akan kembali dengan sia-sia.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan