Sebelum Matahari Terbenam

sunset_lb

“Kakak jahat, aku tidak mau lagi berbicara dengan kakak!” teriak seorang anak laki-laki pada kakaknya sembari membanting pintu kamar.

Sang kakak ingin meminta maaf dan meluruskan permasalahan yang terjadi di antara mereka, namun adik kecilnya itu tidak mau mendengarkan penjelasannya. Ia terus mengurung diri di kamar seharian bahkan hingga menjelang sore hari.

Sang ibu yang melihat kejadian itu mencoba menjadi penengah diantara kedua anaknya. Segera ia masuk ke kamar anaknya yang bungsu. Dilihatnya anaknya yang bungsu masih marah atas kejadian tadi pagi.

Dengan tersenyum, sang ibu pun berkata “Anakku, apakah kamu masih marah sama kakakmu? Apakah kamu tidak berpikir untuk mengampuni kesalahannya sebelum tidur? Bukankah kamu mengerti bahwa janganlah matahari terbenam sebelum padam kemarahanmu?”

Anak laki-laki itu sedikit kebingungan. Ia sadar bahwa ia telah melakukan hal yang semestinya tidak dilakukannya. Menyimpan kemarahan sepanjang waktu. Sungguh hal yang sia-sia.

“Ibu, apakah aku bisa mencegah matahari terbenam saat kemarahanku belum mereda?” tanyanya pada ibu yang duduk disampingnya.

“Kamu tak perlu melakukan hal itu, lebih-lebih itu hal yang mustahil bagimu. Yang perlu dan bisa kamu lakukan adalah mengampuni dan memaafkan kesalahan kakakmu. Ibu yakin, kamu pasti bisa.”

Untuk setiap menit yang kita gunakan untuk marah, maka kita akan kehilangan 60 detik kebahagiaan.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan