Secangkir KOPI

Secangkir KOPI
Hidup ini selayaknya kopi hitam pekat. Terasa pahit dilidah bagi kebanyakan orang. Namun tetap harus dinikmati. Sepahit apapun hidup ini, mau tidak mau, suka tidak suka waktu tetaplah terus berjalan. Dia tidak akan menunggu kita memberikan sedikit kesempatan untuk beristirahat sejenak. Nikmati saja hidup ini, nikmati apa yang ada pada kita saat ini. Tidak perlu berkeluh kesah seolah kitalah manusia termalang di bumi ini. Hanya ucapan syukur pada TUHAN yang membuat hidup ini lebih hidup bahkan terasa manis.

Terkadang secangkir kopi yang disajikan di hotel berbintang-bintang tidak bisa mengalahkan kopi yang di sajikan warung angkringan di pinggir jalan. Gelas atau cangkir yang mahal tidak bisa menambah cita rasa kopi “nasgithel” yang disukai kebanyakan orang. Hati lebih penting daripada penampilan. Kebanyakan manusia kehilangan hati nuraninya, kebobrokan moralnya dan menutupinya dengan kata-kata yang manis. Seolah-olah manusia yang paling suci. Tampil saja apa adanya dan jagalah hati dari segala godaan dunia ini.

Secangkir kopi yang telah tumpah tak dapat aku nikmati lagi. Seolah terbuang dengan percuma. Namun aku masih bisa membuat secangkir lagi dengan takaran dan rasa yang sama. Selalu ada kesempatan kedua dalam hidup ini. Saat gagal tidak ada yang melarang kita untuk menangis, sedih atau mungkin mengurung diri di dalam kamar berhari-hari. Tapi jangan pernah lupa untuk bangkit kembali. Seorang pemenang bukannya tak pernah gagal melainkan mereka tak pernah menyerah pada keadaan.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan