Selalu Ada Untukmu

came-back

“Kau pernah bilang bahwa kau sangat mencintaiku. Kau ingin membahagiakan diriku. Kau tak ingin melihatku sedih dan terus menangis. Bukankah itu yang kau katakan dahulu, mas?”

Dihadapanku, seorang wanita yang sangat aku sayangi tengah berluluhkan air mata. Berharap aku mendengarkan setiap jeritan rasa tidak puasnya. Berontak dan berharap ia bisa pergi dari sisiku.

“Mas, aku mau bertanya satu hal padamu? Andai didasar jurang yang dalam terdapat bunga yang sangat indah, maukah kau mengambilnya untukku? Meskipun harus mengorbankan dirimu sendiri.”

Aku hanya terdiam.

“Jawab, mas!”

Tanpa aku sadari sebuah tangan mungil memukul dadaku. Isak tangis yang kembali pecah seolah memohon belas kasihan. Dia berharap agar membiarkannya pergi dan mengambilkan bunga itu untuknya.

Kembali aku hanya terdiam. Menarik nafas dalam-dalam. Kupegang tangannya dan kutarik kepalanya bersandar didadaku. Kupeluk erat tubuhnya. Terasa dingin bak butiran salju.

“Sayang, aku memang menyayangimu. Sangat-sangat menyayangimu. Dan seperti janjiku, aku ingin membuatmu bahagia. Semampuku, bunga itu pasti akan kuberikan padamu. Tapi satu hal, aku tak ingin mati hanya karena bunga itu. Kau tahu mengapa?”

Perlahan wajah cantiknya menatapku.

“Apa maksud dari perkataanmu, mas?”

“Aku tak ingin mati hanya karena bunga itu. Jika aku mati, siapa yang akan menemani hari-harimu? Siapa yang akan menggendongmu, saat kau merasa lelah. Disaat kau perlu teman bicara, aku ingin ada disana untukmu. Disaat kau perlu bahu untuk bersandar, aku akan selalu ada.”

“Aku sadar belum banyak kebahagiaan yang bisa kuberikan padamu. Namun aku akan terus hidup dan berusaha. Aku tidak mau mati hanya untuk meninggalkanmu sendirian.”

Sebuah pelukan hangat dan erat aku rasakan. Seakan ia mengerti bahwa aku sangat mencintainya. Seumur hidupku.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan