Syal Milik Tina

Syal Merah

Disebuah ruangan petak segiempat berukuran sedang, dengan ditemani cahaya lampu petromak, seorang gadis sedang asyik duduk di sudut itu. Tangannya tak bisa diam bahkan jari-jarinya selalu menari-nari di atas selembar kain. Tina namanya. Begitulah ia dipanggil sehari-hari.

Tok..tok..tok..tok…

Terdengar suara mengetuk pintu. Bergegas Tina beranjak dari duduknya. Ada sedikit rasa takut. Siapa gerangan malam-malam begini bertamu kerumahnya. Samar-samar ia mendengar suara perempuan memanggil namanya.

Tina … Tina …

Dengan langkah yang gemetaran, Tina menuju arah pintu. Dibukanya pintu itu perlahan-lahan. Dihadapannya telah berdiri seorang perempuan berambut merah. Sorot matanya tajam. Tersungging sedikit senyuman. Seakan tak percaya Tina akan apa yang dilihatnya.

“Kenapa lama sekali, kau buka pintunya,” perempuan berambut merah tiba-tiba memecah keheningan.

“Maaf Santi, aku tadi sedang sibuk membuat syal. Kau tahu sendiri kan syal itu harus segera aku selesaikan,” jawab Tina pelan.

Santi, ya dialah Santi teman sekolah Tina. Sejak masih kecil mereka selalu bersama-sama, main bersama, pergi sekolah pun bersama. Dimana ada Tina, disitu pasti ada Santi. Seperti saudara yang tidak bisa dipisahkan, sebuah persahabatan yang lahir sejak mereka bertemu pertama kali.

Keduanya masuk ke dalam ruangan itu. Duduk saling berhadapan. Hening, sepi, hanya suara jangkrik dan binatang malam bernyanyi bersahutan.

“Bagaimana dengan Arya, apakah kamu bertemu dengannya Santi?” tanya Tina sambil tertunduk lesu.

“Iya, tadi siang aku melihatnya. Dan seperti biasa ia seperti orang yang kebingungan. Wajahnya terlihat pucat. Seperti tak ada lagi harapan dalam hidupnya? Mengapa tak kamu katakan yang sebenarnya? Aku yakin Arya pasti bisa menerimanya.”

Tina hanya terus menunduk. Matanya terpejam. Setetes demi setetes air mata mulai mengalir dipipinya. Dua tahun telah berlalu saat ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Arya. Arya yang sangat ia cintai. Tetapi sekarang ia harus benar-benar menghapus segala kenangan itu.

Di ruangan itu, ia harus menjalani hari-harinya. Tak ingin Arya tahu akan kenyataan yang harus dihadapinya. Hanya sahabtnya Santi yang tahu akan rahasia ini. Dan biarlah syal miliknya yang akan selalu menjadi teman. Teman yang selalu hadir disetiap waktu bersama kanker hati yang dideritanya.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan