Tak Ada Yang Sempurna

Menghargai-cinta

Adalah seorang pemuda yang kaya raya dan tampan parasnya. Dia adalah seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan yang tersohor. Banyak para gadis yang jatuh hati pada pemuda itu. Juga para putri dari kerajaan-kerajaan seberang. Namun tak satupun yang memikat hatinya, karena di mata pemuda itu masih ada ketidaksempurnaan dari para gadis yang jatuh hati padanya.

Demi mencari pilihan hatinya yang sempurna, pemuda itu memutuskan untuk berkelana. Ia hendak pergi ke seluruh daerah untuk mencari wanita yang sempurna dan tak bercacat. Ia merasa sangat yakin bahwa ada wanita yang sesuai dengan criteria dan impiannya.

Hingga tibalah ia disebuah desa, di mana ia disambut dengan ramah oleh seorang petani yang biasa-biasa saja. Petani itu mempunya tiga orang anak perempuan. Dan pemuda itu ternyata kagum akan kecantikan mereka. Namun tetap dengan prinsipnya untuk mencari yang sempurna, ia bermaksud untuk mengenal lebih dekat akan pribadi mereka. Akhirnya ia putuskan minta ijin pada petani untuk niatnya tersebut.

Keeseokan harinya, pemuda itu mengajak pergi anak petani yang sulung. Seharian mereka menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan keliling desa. Hingga menjelang sore, mereka kembali ke rumah.

“Bagaimana anak muda, apakah engkau tertaik dengan putriku yang pertama. Bukankah dia cantik dan dewasa serta memiliki naluri seorang ibu?” tanya petani itu.

“Saya akui putri bapak yang pertama memang cantik dan dewasa. Namun telapak tangan kirinya ada luka yang tak bisa hilang. Dan itu adalah ketidaksempurnaan yang belum bisa saya terima.”

“Kalau menurut engkau begitu, aku masih punya dua orang anak perempuan. Bawalah jalan-jalan anak perempuanku yang nomor dua dan lihatlah apakah ia sempurna dihadapanmu?”

Hari berikutnya, pemuda itu kembali berkeliling desa bersama dengan anak petani yang nomor dua. Dan sekembalinya ke rumah, pemuda itu tetap berkata pada petani itu bahwa anaknya yang kedua memiliki bekas luka di kaki kanannya. Dan ia tak bisa menerima itu.

“Aku masih mempunya seorang anak perempuan yang paling bungsu. Aku tidak yakin apakah kamu masih mau mencoba untuk mengenalnya atau tidak?”

Namun akhirnya demi mewujudkan impiannya, ia kembali mengajak anaknya yang bungsu untuk jalan-jalan. Seharian pemuda itu bersama dengan perempuan itu dan ia melihat dihadapannya ia sempurna. Tidak ada cacat dalam diri perempuan itu.

“Pak, saya sudah menemukan perempuan pilihan saya. Ijinkan saya besuk kembali ke kerajaan dengan anak bapak yang paling bungsu. Saya jatuh hati padanya.”

“Tapi, anak muda!”

“Bapak tidak usah kuatir, saya akan menjaga anak bapak dengan baik. Dia adalah wanita yang sempurna dan tak ada cacat sama sekali.”

Pemuda itu sama sekali tak mau mendengar penjelasan petani itu. Tak berapa lama, pemuda itu menikah dengan perempuan itu. Ia merasa sangat bahagia karena telah menemukan wanita yang sempurna. Tak ada cacat dan kekurangan. Hingga akhirnya perempuan itu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.

Namun pemuda itu tidak senang dengan kehadiran anaknya tersebut, karena ia merasa anak itu tidak mirip sama sekali dengan dirinya atau isterinya. Dengan perasaan marah, pemuda itu datang ke rumah petani yang adalah ayah dari isterinya sendiri.

“Pak, mengapa anak yang dilahirkan isteriku tidak mirip sama sekali denganku ataupun isteriku. Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Anak muda, dulu saat kamu memilih anakku yang bungsu, aku hendak memberitahukan namun engkau tak mau mendengarkan penjelasanku. Anak bungsuku itu memang cantik dan sempurna dihadapanmu, namun ia mempunyai cacat atau kekurangan yang tidak kelihatan. Ia telah hamil sebelum engkau datang kemari.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan