Takkan Pernah Salah Alamat

belas kasihan

Siang itu seorang pemuda sedang berjalan-jalan dan dilihatnya seorang bapak tua penjual kerupuk keliling. Tanpa pikir panjang segera dihampirinya bapak tua itu.

“Pak, berapa harga kerupuknya satu bungkus?”

“Dua ribu mas, masnya mau beli berapa?”

“Saya beli dua ya pak.”

“Baik mas, tunggu sebentar ya!”

Bapak tua itu terlihat meraba-raba bungkusan kerupuk. Diambilnya dua bungkus lalu diberikan pada pemuda itu.

Pemuda itu tiba-tiba kaget dan terkejut karena dilihatnya bapak tua memiliki gangguan pada penglihatannya.

“Pantas saja tadi bapak tua itu meraba-raba bungkusan kerupuk,” gumam pemuda itu dalam hati.

“Ini pak uangnya,” seraya mengulurkan uang dua puluh ribu.

“Jadinya empat ribu ya mas, sebentar saya ambil kembalian dulu ya.

Bapak tua itu segera membuka tas pinggangnya untuk mengambil uang kembalian.

“Mas, silakan ambil kembaliannya sendiri ya!” ujar bapak tua itu setelah membuka tas pinggangnya.

“Pak, kok saya disuruh ambil kembalian sendiri. Kalau misal nanti uangnya saya ambil semua kan bapak bisa rugi.”

Dengan tersenyum bapak tua itu berkata.

“Gusti Allah tidak pernah salah alamat dalam memberikan rejeki pada umatnya. Jika hari ini saya harus rugi, saya yakin Gusti Allah telah siapkan rejeki yang lain dan lebih baik buat saya.”

Pemuda itu merasa terharu mendengar kata-kata bapak tua itu. Tak berapa lama matanya telah berkaca-kaca.

“Udah ambil kembaliannya belum ?”

“Gak usah pak, hari ini Allah telah kirimkan rejeki buat bapak!” sambil menjabat tangan bapak tua itu dan menyelipkan lagi uang lima puluh ribu.

“Terima kasih, mas.”

“Iya pak, sama sama. Bapak hati hati ya di jalan!”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan