Telaga Kehidupan

Telaga Hidup

Hidup memang tak kan pernah dengan yang namanya masalah. Selama kita masih hidup di dunia ini, masalah akan selalu dating. Kita mungkin tak bisa menghalangi datangnya masalah, namun kita bisa bersikap bagaimana menghadapi masalah itu.

Hingga suatu ketika ada seorang pemuda yang sedang tampak putus asa. Langkahnya tampak gontai dan raut mukanya yang ruwet. Ia berjalan menuju tepi telaga hendak menyendiri dan tak ingin diganggu oleh siapapun.

“Anak muda, apa yang sedang kau dilakukan di sini?” tiba-tiba seorang kakek tua menegur pemuda itu yang sedang melamun.

“Iya kakek, saya sedang pusing karena banyak masalah yang sedang saya hadapi. Saya merasa seolah-olah hidup saya sudah tidak artinya. Semuanya terasa sia-sia,” jawab pemuda dengan suara datar.

Lalu kakek tua mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberika kepada anak muda itu.

“Ambillah ini!” segemgam garam diulurkannya pada anak muda itu.

“Isilah gelas dengan air dari telaga itu dan tuangkan garam ini ke dalamnya. Aduklah  dan minumlah!”

Sejenak anak muda itu tampak bingung, namun akhirnya ia melakukan apa yang kakek tua itu perintahkan.

“Pahit, pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah kesamping.

Kakek tua hanya tersenyum. Tak berapa lama ia mengambil lagi segenggam garam dan menaburkan ke pinggiran telaga. Dengan sepotong kayu di aduknya sebentar, lalu mengambil penuh satu gelas air tersebut.

“Cobalah kamu minum kembali!”

“Bagaimana rasanya?”

Anak muda itu segera minum dan tiba-tiba ia berkata “Segar sekali, tidak lagi terasa pahit.”

Kakek tua menghampiri anak muda dan berkata “Anak muda, pahitnya hidup ini ibarat segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya akan tetap sama dan selalu sama. Jika ada permasalahan yang menghimpitmu seperti garam tadi, lapangkanlah dadamu dan luaskan hatimu untuk menerima dan menghadapinya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas melainkan seperti telaga yang luas ini yang mampu meredam setiap kepahitan yang dating dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan