Tempe Setengah Jadi

Tempe Setengah Jadi

Tempe Setengah Jadi

Di pagi buta itu aku bergegas bangun dan bersiap-siap untuk ke pasar. Aku lihat di kamar, ibuku masih terbaring di tempat tidurnya. Aku lalu mengambil tempe-tempe yang nantinya akan aku jual di pasar. Seperti biasa di sore hari, aku membeli tempe yang belum jadi agar keesokan paginya tempe itu sudah jadi dan bisa aku jual.

Betapa terkejutnya aku, ternyata tempe-tempe itu masih setengah jadi. Tidak seperti biasanya hal ini terjadi. Dalam hati aku berpikir bagaimana mungkin aku menjual tempe yang masih setengah jadi. Urung niatku untuk berangkat ke pasar. Tetapi akhirnya aku putuskan untuk tetap berangkat walaupun aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku tidak tega membangunkan ibu dan memberitahukan masalah ini.

Sepanjang perjalanan aku terus berpikir segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan bila nantinya tempe-tempe itu tidak habis terjual atau tidak laku sama sekali. “Mau makan apa hari ini, aku dan ibuku?” gumamku dalam hati.

Tiba juga akhirnya aku di pasar. Matahari mulai bersinar dengan cerahnya, tetapi tidak secerah hatiku saat itu. Aku hanya duduk diam di tempat dimana aku berjualan. Sambil menunggu orang yang lewat lalu lalang, aku hanya terus terdiam. Dan apa yang aku kuatirkan pun terjadi. Tidak ada satu orangpun yang membeli tempe-tempe yang aku jajakan.

Aku lihat matahari sudah beranjak tepat di atas kepalaku. Aku lihat pasar mulai sepi dan orang-orang mulai meninggalkan tempat mereka berjualan. Aku hanya menghela nafas menyesali keadaan saat itu. Dalam lamunanku tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara wanita setengah baya.

“Dik, apakah ada tempe yang setengah jadi?” tanyanya dengan tersenyum.

“Iya bu, maaf saya melamun. Ada bu, ini tempenya.”

“Masih ada banyak, dik?”

Lalu aku memperlihatkan tempe-tempe itu kepada wanita tersebut. Wanita itu berpikir sejenak dan tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuatku hampir tidak percaya.

“Baiklah dik, saya beli semua tempenya,” sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.

Aku hanya terdiam saat itu. Serasa tidak dapat aku percaya, peristiwa yang baru terjadi. Ternyata ini bukan mimpi. Aku segera bergegas pulang dan tidak sabar untuk menceritakannya pada ibuku. Sepanjang perjalanan pulang sesekali aku melihat ke atas dan bersyukur bahwa Tuhan senantiasa memelihara umatnya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan