Tersenyumlah Dengan Hatimu

Terseyumlah dengan Hatimu

Terseyumlah dengan Hatimu

Aku melangkahkan kaki menuju sebuah cafe dan perasaan itu masih membelenggu hatiku. Hujan rintik-rintik di pagi itu tiada henti menemani langkah gontaiku. Kuhela nafas sejenak dan masuk ke dalam antrian orang-orang untuk memesan minuman hangat.

Tak lama kurasakan ada sesuatu yang menggangu pemandanganku. Perlahan tapi pasti dengan teraturnya setiap orang di dalam antrian membubarkan diri. Kudengar suara-suara yang penuh dengan keluhan dan makian. Kucium sesuatu yang baunya sangat menusuk. Aku putuskan untuk melihat ke belakang dan dengan agak terkejut, tepat di belakangku berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.

Seperti orang kebingungan, aku tidak tahu apa yang harus lakukan. Aku hanya menunduk. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Tanpa kusadari kulihat tatapan matanya dan senyum di wajah orang itu. Sorot matanya yang tajam dan seakan memancarkan kasih sayang yang dalam. Sebuah tatapan yang seolah-olah agar aku bisa menerima kehadirannya.

“Selamat pagi…” sapanya dengan tetap tersenyum. Dia mengeluarkan beberapa recehan untuk membeli minuman yang akan dipesan. Dibelakangnya aku melihat temannya yang selalu berpegangan pada pundaknya. Sambil memainkan tangannya, laki-laki yang dibelakangnya bergumam sendiri. Segera aku menyadari bahwa dia adalah penolong bagi temannya yang tidak bisa melihat.

“Mbak mau pesan apa?” tiba-tiba wanita penjaga counter menanyakan apa yang akan aku pesan. Betapa terkejutnya setelah kulihat hanya aku dan dua orang lelaki itu yang mengantri. Dengan perasaan iba dan berkecamuk aku persilakan mereka memesan duluan.

“Dua gelas kopi hitam, bu.” pesan laki-laki itu.

Kulihat mereka berjalan beriringan menuju tempat yang jauh dari pengunjung yang lain. Di pojok ruangan mereka menikmati kopi yang sudah dipesan. Sambil mengamati mereka aku putuskan memesan dua paket sarapan pagi dalam nampan terpisah.

Aku bawa nampan itu dengan gemetaran ke pojok rungan. Aku letakkan nampan itu di meja mereka. Sambil tersenyum aku meletakkan tanganku di punggung tangan laki-laki penolong tadi dan berkata “Makanan ini untuk kalian. Makanlah selagi masih hangat.” Laki-laki penolong itu menatap ke arahku. Setetes air mata membasahi pipinya. Dengan mata yang berkaca-kaca dia hanya mampu berkata “Terima kasih.”

Aku mencoba untuk tetap tenang dan menguasai diri. Sambil menepuk bahunya aku pun berkata “Sesungguhnya bukan aku yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan ada di disini dan membisikkan sesuatu ke telingaku untuk menyampaikan makanan ini pada kalian.” Laki-laki itu tiba-tiba memeluk temannya sambil menangis terisak-isak.Air matanya tidak lagi dapat ia bendung. Suasana haru menyelimutiku. Kurengkuh pundak mereka dan setetes air mataku pun ikut ke luar mengalir di pipiku. Tak kupedulikan orang-orang yang memperhatikan kami. Aku merasakan kehangatan kasih sayang di antara mereka. Hingga aku mengucapkan salam dan meninggalkan mereka, menembus kembali rintik-rintik hujan yang telah menunggu.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan