Tidak, Terima Kasih

Meraih Mimpi

Ketika mimpi itu sudah aku yakini dan aku gantungkan di depan dahiku sepanjang 5 cm untuk terus aku kejar. Dengan segala daya upayaku, dengan segala usahaku demi mimpi-mimpi itu suatu saat menjadi sebuah kenyataan. Namun apa yang aku dapat?

Kemalangan, hambatan, godaan, kerikil-kerikil tajam, badai hujatan dan semua hal-hal yang berusah membelokkan jalan mimpiku. Mereka berusaha untuk membuat aku berbalik arah. Tapi dengan sangat yakin aku akan terus melangkah apapun yang terjadi. Tapi kali ini apa yang aku dapatkan?

Aku merasa menjadi pribadi yang asing bagi diriku sendiri. Karena aku terus berjalan diluar jalan-jalan yang selama ini menjadi jalan hidupku. Orang-orang disekitarku selalu melihat diriku sebagai makhluk yang aneh. Terus berlari tanpa ada tujuan. Satu per satu orang-orang yang mendukungku entah karena segan, hormat, bahkan sungkan ternyata perlahan meninggalkanku.

Dan semuanya itu telah meninggalkan goresan di hati, tatkala mereka semua hilang dari sekitarku. Tak terhitung untuk keberapa kalinya. Hingga aku pun juga berpikir sejenak, mengapa aku harus mengambil jalan ini yang sulit ini? Keyakinanku sangat tinggi untuk menggapai mimpi ini namun apa daya otakku buntu.

Mengapa tidak aku ambil saja pilihan yang jauh lebih mudah? Haruskah aku melakukan itu semua tetapi hidup menjadi orang lain, apalagi meninggalkan mereka yang mempedulikanku. Haruskah itu terjadi?

Hidup ini hanya sekali dan aku sadar telah mengambil pilihan yang sulit. Mungkin belum saatnya ini terjadi. Semua pilihan itu ada resikonya dan nyata di hadapanku. Akhirnya dengan tersenyum aku katakan, “Tidak, terima kasih.”

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan