Tiga Puluh Tiga

Pagi Hari

Tak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Hanya berteman dengan waktu dan bergaul dengan ruangan ini. Cahaya lampu ini silau di mataku.  Merekalah yang dengan setia menemaniku. Menapak dan terus melangkah walaupun tergerus oleh kerasnya hidup ini.

Menunggu tapi tak kunjung datang. Menanti namun tak ada yang menghampiri. Siapakah yang harus kusalahkan? Haruskah aku marah? Aku rasa tidak. Kebahagiaan dan kenikmatan sejati tak kan berhenti dengan yang ada di depan mata.

Kupeluk cintamu Tuhan. Kuhaturkan rasa syukur. Sujud kumenyembah-MU pemilik langit dan bumi. Siapakah aku ini hingga harus menumpahkan rasa kesalku? Terlalu ego jika aku meminta tuk selalu didengarkan dan diingat. Biarlah semuanya berlalu seiring waktu yang terus berjalan.

Apakah hidup ini akan baik-baik saja? Saat kaki menginjak nomor yang ketiga puluh tiga. Tak seharusnya aku ambil pusing. Tatkala aku serahkan semuanya pada sepasang tangan yang selalu menjagaku, disitulah aku merasa aman. Percayalah dan yakinlah, masa depanku ada di dalam rencanaNYA.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan