Usia Dalam Petuah Jawa

Bertambahnya Usia

Berapakah usia anda saat ini? Mungkin masih ada yang di bawah 20 tahun atau bisa juga sudah berada di atas 20 tahun. Atau mungkin sekitar usia 30 an, 40 an atau sudah di atas 50 tahun. Yap, tentu saja anda sendirilah yang mengetahui usia anda saat ini.

Angka 1 dalam bahasa jawa disebut “siji”, 2 disebut “loro” dan begitu seterusnya sampai angka 9 yang disebut “songo”. Dan angka 10 disebut dengan “sepuluh”. Namun perbedaan terlihat pada angka berikutnya yaitu 11,12,13,…19, dimana 11 tidak disebut “sepuluh siji” dan seterusnya.

Dalam bahasa jawa, angka 11,12,13,… 19 diucapkan dengan kata “sewelas, rolas, telulas, … songolas”. Disini angka puluhan digantikan dengan kata “welasan”. Orang-orang di usia 11 s.d 19 adalah saat-saat mereka mengerti akan rasa “welas asih” (belas kasih). Rasa simpatik, perhatian, peduli terutama pada lawan jenisnya. Di masa inilah biasanya rasa cinta muncul saat menginjak usia-usia remaja.

Angka 20 disebut dengan “rong puluh”

Selanjutnya angka 21,22,23,…29 tidak disebut dengan kata “rong puluh siji”, “rong puluh loro” dan seterusnya. Angka 21 disebut “selikur”, 22 disebut “rolikur” dan begitu seterusnya. Disini terdapat kata-kata “LIKUR” atau bisa diartikan “Lingguh Kursi” yang dalam bahasa indonesia mempunya arti duduk dikursi.

Mereka pada usia demikian mendapatkan “tempat duduknya”, pekerjaan dan profesi yang ditekuni dalam hidupnya. Namun kata “Likur” tidak berlaku bagi angka 25 karena angka 25 tidak disebut dengan “lima likur” melainkan dengan “selawe”.

“SELAWE” bisa diartikan SEneng-senenge LAnang lan WEdok (Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan) yang biasanya ditandai dengan adanya pernikahan. Mungkin tidak mutlak, namun rata-rata pada usia 25 an mereka memulai kehidupan berumah tangga.

Angka 30 disebut dengan “telung puluh” dan begitu seterusnya angka 31 (telung puluh siji), 32 (telung puluh loro), 40 (patang puluh), 41 (patang puluh siji) sampai 49 (patang puluh songo). Tidak ada perubahan ucapan dari barisan angka di atas. Semuanya normal apa adanya. Begitupun dengan hidup yang mereka jalani saat menginjak usia tersebut. Semuanya berjalan normal bersama dengan keluarganya masing-masing. Pekerjaan, pasangan hidup, anak sudah mereka dapatkan dan melanjutkan hidup mereka seperti biasanya.

Masuk angka 50 tidaklah disebut dengan “Limang Puluh”, melainkan 50 biasa diucapkan dengan kata “SEKET” (SEneng KEThonan) yang dalam bahasa indonesia mempunya arti suka memakai kethu/tutup kepala/kopyah.

Usia 50 adalah tanda usia sudah lanjut. Biasanya tutup kepala digunakan untuk menutupi rambut yang mulai memutih atau justru yang rambutnya mulai jarang (botak). Disisi lain kopyah juga bisa melambangkan orang yang sedang beribadah. Diusia sekarang semestinya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya sebagai bekal memasuki kehidupan yang selanjutnya.

“SEKET” juga bisa diartikan “supoyo do cekat ceket” yang dalam bahasa indonesia mempunya arti agar segera berbenah. Berbenah diri karena bisa saja kematian bisa datang dengan tiba-tiba.

Dan yang terakhir adalah angka 60 yang tidak disebut dengan “enem puluh” melainkan diucapkan dengan “SEWIDAK”. Sewidak bisa diartikan SEjatine WIs wayahe tinDAK. Sudah saatnya untuk pergi.

Mungkin itu semuanya hanyalah permainan kata dan angka. Kita boleh percaya atau tidak. Namun bagi kita yang masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, perbanyaklah ucapan syukur atas segala nikmat yang TUHAN berikan pada kita.

***

Comments

comments

Tinggalkan Balasan